Berawal dari persahabatan yang panjang antara Anis Azhar yang kemudian sukses menjadi Pengusaha Pabrik Pupuk Kimia dan Agus Santoso yang meniti karier di PNS. Dengan latar pendidikan yang sama yaitu bidang Pertanian, mereka seringkali mendiskusikan banyak hal terkait mulai Produksi dan Pemasaran Pupuk yang semakin tidak menentu hingga Pemanfaatan Pupuk dan pestisida Kimia yang telah “meracuni” perilaku sebagian besar petani khususnya tanaman pangan;

Dari situ mereka sepakat dan bertekat menanggalkan profesinya dan Alih Profesi menjadi Petani yang “Ramah Lingkungan”. Salah satu yang digeluti dan dikembangkan adalah Budidaya Singkong atau Ketela Pohon; Mereka tidak menyatakan sebagai Pertanian Organik tetapi mereka juga tidak menggunakan satupun jenis pupuk dan pestisida kimia Pabrikan. Semua dilakukan dengan cara yang konvensional. Sebenarnya Model berkebun seperti ini tidak ada yang aneh karena sudah diterapkan sejak jaman nenek moyang kita dahulu. Mereka menyadari bahwa pupuk kimia adalah produk kontroversial. Di negara kita tidak butuh itu, tanah kita ini gudangnya Microorganisme yang bermanfaat untuk menjaga kesuburan tanah. Caranya dengan tidak diusik (diracuni)  tapi dijaga lingkungannya supaya microorganisme lebih berkembang dengan aman dan nyaman. Di lokasi kebun mereka yang berada di Lamongan Jawa Timur selama ini  memang tidak pernah ada gangguan hama penyakit kecuali Babi Hutan. Sedangkan untuk Gulma selama 3 bulan awal penanaman sangat luar biasa  walaupun cara penangananannya tetap saja konvensional . Selepas umur 3 bulan, kanopi tanaman saling menutupi, gangguan gulma secara bertahap hilang dengan sendirinya.

Apa yang dilakukan ke 2 Orang ini tentunya tetap dalam rangka  berbisnis,  cari untung sebesar2 nya tapi yang tidak menghancurkan lingkungan; Harus disadari Gunung itu tidak serta merta menjadi tinggi, demikian juga usaha budidaya Singkong yang dikelola 2 Orang ini. Diawali dari dari 2 Hektar dan pada Tahun ke 3  yaitu  Tahun 2014 ini sudah mulai beranjak menjadi 7 Ha Singkong dan 2,5 Ha Jagung Komposit; Artinya selama 3 Tahun bisnis ini  tumbuh. Bisnis ini   pasarnya masih terbuka luas.

Kalau bicara untung, memang usaha Singkong layaknya budidaya pertanian lainnya,  tidak ada yang spektakulair dibandingkan dengan  bisnis lainnya. Orang bilang “Usaha Pertanian Untungnya Sedikit, tapi Bisnis Lain Gampang Surutnya”. Tetapi 2 Orang ini bisa membuktikan bahwa Produktivitas (produksi per satuan luas) Singkong yang ditangani dengan cara mereka cukup memuaskan.

Untuk mengawali usaha ini,  1 Ha lahan diperlukan bibit sebanyak 10.000 batang  sebaiknya bibit dari  kebun yang tidak  terkontaminasi Pupuk dan Pestisida Kimia; Produksi per batang selama 10 Bulan bervariasi, yang paling sedikit 9,8 kg. Sudah tentu  ada yang ektrim hingga mencapai 40,2 kg. Tapi  yang jadi rujukan rata2 per satuan Hektar. Dari budidaya yang sudah dipanen kisaran produksi per Hektar  130 s/d 145  Ton. Itu kira2 gambaran kasar budidaya Singkong yang tanpa perlakukan Pupuk dan Pestisida Kimia.